Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Minggu, 01 Desember 2013

Ocehan di Kala Hujan I

Sore ini ditemani gemuruh hujan menjelang maghrib. Cuaca yang sama sepuluh tahun lalu terasa berbeda, tak ada sepi menggelayuti. Ketika itu, rumah terasa hangat di tengah gemuruh hujan. Hujan selalu membawa nuansa tersendiri bagi kami. Bukan karena playlist yang diputar -karena saat itu kami tak punya-. Apabila mampir, akan ada sepetak tanah pinggir rumah yang terasa sejuk dibawah pohon-pohon yang kami tanam dari biji apapun yang dapat kami peroleh. Tak perlu ke Dieng yang penuh lahan kentang atau Kota Batu yang terkenal apelnya dan cuaca yang dingin untuk merasakan kesejukan yang sama. Halaman itu terasa lebih indah setelah indahnya padang Anaphalis Surya Kencana. Rindang pohon itu adalah pohon nangka yang saat itu buahnya di cabang yang tinggi, tak seperti sekarang yang anak berusia 8 tahun pun bisa memetiknya. Di musim hujan seperti ini, ada juga pohon srikaya yang mulai berbuah. "Ingat, kalau mau mengambil, lihat apakah kulitnya sudah terlihat jarang, tapi jangan tunggu sampai empuk atau akan keduluan sama kalong atau hewan lainnya," pesan ibu suatu ketika. Ada juga pohon mundu yang sampai sekarang tak kunjung berbuah. Entah kenapa. Pohon pisang sebenarnya menjadi pendahulu lainnya, namun sekarang menjadi kaum minoritas, mirip suku aborigin di Australia atau suku Indian di Benua Amerika.

Hujan kala itu merasa tak sungkan masuk ke rumah kami tanpa kulo nuwun. Air-air itu menetes tanpa memperdulikan gerutuan kami yang berlari kesana kemari sambil membawa ember atau bakul. Saat itu, hujan membawa keriangan bagi seusia saya di tengah gemuruhnya. Kadang kami menikmatinya hanya dengan berlari-lari, memperbaiki saluran air, atau berlari sambil mencari bajangan  atau kalau beruntung dapat yang sudah masak. Kadang kalau ada yang tak rela akan mangganya, kami harus berlarian menghindari yang punya. Tak pernah kami berpikiran pasal pencurian atau penganiayaan apalagi sampai lapor polisi. Mungkin hanya tawa kami yang semakin riuh.

Pernah juga kurang beruntung bisa menikmati tawa di luar rumah, selesai menata saluran air hujan, kami sekeluarga biasa berkumpul menertawakan keadaan kami. Banyak guyonan kala itu yang mungkin bisa jadi bit bagi para komik. Biasanya ibu berbaik hati menyajikan rebusan singkong yang luar biasa rasanya saat itu. Tak ada playlist hujan saat itu. Saya pun belum mengenal Desember-nya Efek Rumah Kaca. 

Itulah kesejukan sekaligus kehangatan yang tak akan lagi saya temukan. Tidak juga di riuhnya camp ground Ranu Kumbolo,atau hangatnya matahari pagi Danau Taman Hidup setelah empat hari dihempas badai.

Selasa, 12 November 2013

Seberkas Mimpi di Ujung Desa Pinggir Tambang

“Gus, kita tukeran ya? Kan gak bisa kalau satu sekolah ada 2 profesi yang sama.” Sesama fiskus se-almamater meminta saya beberapa waktu yang lalu. 

Sebelumnya, saya tercengang mendengar penuturan Bapak Kepala Sekolah di SD Wonocolo, Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro. Mengapa? Di SD Negeri ini tercatat 54 siswa terdaftar namun, menurut penuturan Kepala Sekolah, hanya 48 siswa yang aktif belajar, sisanya disebutnya “titipan”. Ya, di salah satu kawasan ladang minyak yang dikelola secara tradisional oleh warganya sendiri ini, pendidikan kurang begitu diperhatikan. Di sekitar sekolah, bisa dibilang orang tua mereka kebanyakan orang yang mampu. Kalau diperhatikan, dalam satu sekolah –kelas 1 sampai kelas 6- HANYA ADA 48 siswa. Kelas 6 hanya ada 1 orang siswa. Begitu bersemangat saya mendengar ditempatkan disana dalam Kelas Inspirasi. Harus ada yang dilakukan, pikir saya.

Dua hari berikutnya, seorang Account Representative yang lulusan Diploma IV menyambangi meja saya. Oleh Kelas Inspirasi Jawa Timur (KI Jatim, begitu disebutnya), beliau diminta untuk mengajar di SD Manukan, Kecamatan Kalitidu, Bojonegoro.  Rencananya, AR ini akan menumpang mobil fotografer KI Jatim yang ditugaskan di SD Wonocolo, jadilah saya menggantikannya di SD Manukan. Sekolah ini terletak tidak jauh dari pengeboran minyak di Banyu Urip dan sekitarnya. Sedikit bingung karena gambaran mengenai sekolah tersebut tidak ada sama sekali meskipun letaknya hanya sekitar 14 Km dari Bojonegoro. Sedihnya lagi, fasilitator SD tersebut tidak memberi balasan mengenai gambaran sekolah lewat Short Message Service. Konsep yang ada pun tidak saya ubah, berharap tidak beda jauh kondisinya.

Setibanya dari Jogjakarta, saya langsung bergegas menyiapkan beberapa properti yang bisa diperoleh di Surabaya (sebenarnya hanya baju berlogo DJP pinjaman dari rekan satu seksi,hehe). Siangnya, langsung meluncur ke kota kelahiran, Bojonegoro. Saya harus berterima kasih dengan kakak saya dalam menyiapkan property ini. Karena beliau, saya memperoleh LCD Proyektor. Malam itu juga saya menyiapkan 100 lembar kertas berwarna untuk membuat origami. Nah ketika ingin menyiapkan LCD Proyektor, barangnya belum bisa diambil. Malam itu ada Big Match English Premier League, MU vs Arsenal, dan proyektor tersebut masih digunakan untuk nonton bareng.

“Kita ikutan nonton bareng ae mas!” usul saya
“Jam berapa kick off-nya?” tanya kakak
“Sekitar 22.30, mas”
Yawes, aku tak kesana dulu”

Beberapa menit setelah cabut, beliau telepon ngajak gabung nonton bareng MotoGP dulu. Kebetulan saya harus menyiapkan bahan buat esok hari, jadi saya tolak ajakannya. Selepas MotoGP bubaran –Marquez juara MotoGP- kakak saya sudah kelihatan ngantuk dan tiba-tiba sudah molor di kursi. Ah besok juga bisa, pikir saya. Paginya, ternyata kakak saya harus nunggu lagi pertandingan Liga Italia, Juventus vs Napoli, bubaran baru bisa dipinjam, padahal pagi ini beliau harus berangkat ke Malang.

Berbekal LCD Proyektor, Laptop, kertas origami, dan sedikit hadiah, pagi itu saya meluncur ke SD Manukan bersama Fauns, seorang pengajar di bidang IT, dan seorang wartawan Jawa Pos sebagai Relawan Fotografer. Setelah menjemput seorang pengajar yang juga Freelance Writer , kami disambut oleh Kepala SD Manukan sekaligus mengajak kami ikut upacara bendera. Profesional yang mengajar hari ini adalah seorang crafter (pengrajin), seorang PNS Daerah (saya juga kurang begitu tahu materi yang dibawa), seorang penulis, seorang ahli IT, seorang penyiar radio, dan saya. Wajah ceria siswa SD itu sungguh mengesankan, apalagi ketika saya ajak diambil fotonya, mereka sumringah dan bergaya bak model :D.

sebelum upacara, foto dulu ah

petugasnya spesial bak Miss World :D
Sang Saka Merah Putih siap dikibarkan

Setelah briefing singkat dari fasilitatornya, saya kebagian kelas 5. Tidak seperti SD Wonocolo, siswa SD disini cukup banyak. Kelas 3 dan Kelas 5 sampai harus diisi masing-masing oleh 2 pengajar dan siswa kelas 1 dan 2 dipulangkan lebih awal (Horee…!).

Kelas 5

Saya berkesempatan berbagi kelas dengan Fauns. Saya cukup ribet dengan peralatan yang saya bawa mengingat belum ada stop kontak di ruangan kelas dan harus mencari rol kabel yang ada sementara Fauns sudah mengawali dengan perkenalan. Selesai berbenah dengan LCD Proyektor, saya mulai menyapa kelas dengan hai-halo, mungkin sudah sering digunakan. Kelas ini sungguh rame anaknya, banyak celoteh namun sangat antusias. Komik tentang pajak urung saya gunakan karena kelas sepertinya aktif sekali berceloteh. Dengan minions dan game tik-tak-bom, saya akhirnya berhasil mendapatkan perhatian mereka. Berbekal kamera yang saya bawa, saya pancing mereka untuk mengekspresikan cita-cita mereka. Ada calon artis, chef, programmer, fotografer, guru, dan banyak calon pemain sepakbola di kelas ini.
Calon penerus Samsul Arif, pemain timnas asal Bojonegoro


Calon Dokter

Atlet Bulutangkis Olimpiade Tahun 2026

Aktris sinetron masa depan

nih pak tifatul, progammer kita di masa depan

Pramugari Garuda semasa SD kayak gini ni

Kelas 3

DI kelas ini, tak kalah gaduhnya dengan kelas sebelumnya, namun saya langsung dapat perhatian mereka begitu saya pasang LCD Proyektor dan menarik keingintahuan mereka tentang alat ini. Well, the next is easier part than before. Antusiasme mereka tak berhenti meskipun sesi saya sudah usai. Saya ajak membuat origami bangau, yang mereka tulis dengan cita-cita mereka. Origami ini, saya terinspirasi oleh cerita Sadako Sasaki, salah satu korban Perang Dunia II dari Jepang yang meninggal karena Leukimia. Semangat mereka luar biasa sekali. Akan sangat menyedihkan apabila Bojonegoro 20 tahun lagi tidak lebih baik daripada hari ini.
Kertas Origami
Seberkas mimpi dalam origami bangau

Mereka sungguh bersemangat dengan cita-cita mereka, tanpa malu mengungkapkannya. Meskipun menurut penuturan pengajar lain, beberapa menulis penambang pasir di sungai sebagai cita-cita mereka, namun mereka masih punya banyak waktu untuk berkembang, belajar, dan berkesempatan berbuat melebihi apa yang mereka pikir saat itu. 

Kegiatan ini ditutup dengan pelepasan balon ke udara yang telah ditempeli cita-cita mereka. Sayangnya, pengadaan balon ini sangat mendadak sehingga para siswa harus menunggu balon itu ada. Sepertinya, persiapan fasilitator di SD ini masih kurang, pun dengan koordinasi pada pengajarnya. Seorang arsitektur berpindah ke SD Wonocolo sedangkan di SD ini sudah disiapkan permintaanya (meski belinya mendadak pula) dan seorang lagi mengundurkan diri.

Balon cita-cita
Bagaimana siswa SD Manukan? They were awesome! They will be more more awesome!

Minggu, 08 September 2013

[Repost]: Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara (Tulisan Bung Karno, 1940)

Buat nomor Maulud ini Redaksi “Panji Islam” minta kepada saya supaya saya menulis satu artikel tentang: “Nabi Muhammad sebagai Pembangun Masyarakat!” Permintaan redaksi itu saya penuhi dengan segala kesenangan hati. Tetapi dengan sengaja saya memakai titel yang lain daripada yang dimin­tanya itu, yakni untuk memusatkan perhatian pembaca kepada pokoknya saya punya uraian nanti.

Nabi Muhammad memang salah seorang pembangun masyarakat yang maha-maha-haibat. Tetapi tiap-tiap hidung mengetahui, bahwa masya­rakat abad ketujuh Masehi itu tidak sama dengan masyarakat abad keduapuluh yang sekarang ini.

Hukum-hukum diadakan oleh Nabi Muhammad untuk membangunkan dan memeliharakan masyarakat itu, tertulislah di dalam Qur’an dan Sunah (Hadits). Hurufnya Qur’an dan Hadits itu tidak berubah, sebagai juga tiap-tiap huruf yang sudah tertulis satu kali: buat hurufnya Qur’an dan Sunah malahan “teguh selama-lamanya, tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas”.

Tetapi masyarakat selalu berubah, masyarakat selalu ber-evolusi. Sayang sekali ini tidak tiap-tiap hidung mengetahui. Sayang sekali, – sebab umpama­nya tiap-tiap hidung mengetahui, maka niscaya tidaklah selalu ada konflik antara masyarakat itu dengan orang-orang yang merasa dirinya memikul kewajiban menjaga aturan-aturan Qur’an dan Sunah itu, dan tidaklah masyarakat Islam sekarang ini sebagai seekor ikan yang terangkat dari air, setengah mati megap-megap!

Nabi Muhammad punya pekerjaan yang maha-maha-haibat itu bolehlah kita bagikan menjadi dua bagian: bahagian sebelum hijrah, dan bahagian sesudah hijrah.

Bahagian yang sebelum hijrah itu adalah terutama sekali pekerjaan membuat dan membentuk bahan­nya masyarakat Islam kelak, material buat masyarakat Islam kelak: yakni orang-orang yang percaya kepada Allah yang satu, yang teguh imannya, yang suci akhlaknya, yang luhur budinya, yang mulia perangainya. Hampir semua ayat-ayat Qur’an yang diwahyukan di Mekkah itu adalah mengan­dung ajaran-ajaran pembentukan rohani ini: tauhid, percaya kepada Allah yang Esa dan Maha-Kuasa, rukun-rukunnya iman, keikhlasan, keluhuran moral, keibadatan, cinta kepada sesama manusia, cinta ke­pada si miskin, berani kepada kebenaran, takut kepada azabnya neraka, lazatnya ganjaran syurga, dan lain-lain sebagainya yang perlu buat men­jadi kehidupan manusia umurnnya, dan pandemen rohaninya perjuangan serta masyarakat di Madinah kelak.

Sembilanpuluh dua daripada seratus empatbelas surat, – hampir dua pertiga Qur’an – adalah berisi ayat-ayat Mekkah itu. Orang-orang yang dididik oleh Muhammad dengan ayat-ayat serta dengan sunah dan teladannya pula, menjadilah orang-orang yang tahan-uji, yang gilang-gemilang imannya serta akhlaknya, yang seakan-akan mutiara dikala damai, tetapi seakan-akan dinamit di masa berjoang. Orang-orang inilah yang menjadi material-pokok bagi Muhammad untuk menyusun Ia punya masyarakat kelak dan Ia punya perjuangan kelak.

Maka datanglah kemudian periode Madinah. Datanglah kemudian periodenya perjuangan-perjuangan dengan kaum Yahudi, perjuangan dengan kaum Mekkah. Datanglah saatnya Ia menggerakkan material itu, – ditambah dengan material baru, antaranya kaum Ansar mendina­miskan material itu ke alam perjuangan dan kemasyarakatan yang teratur. Bahan-bahan rohani yang Ia timbun-timbunkan di dalam dadanya kaum Muhajirin, kaum Ansar serta kaum-Islam baru itu, dengan satu kali perintah sahaja yang keluar dari mulutnya yang Mulia itu, menjadilah menyala-nyala berkobar-kobar menyinari seluruh dunia Arab.

“Pasir di padang-padang-pasir Arabia yang terik dan luas itu, yang beribu-ribu tahun diam dan seakan-akan mati, pasir itu sekonyong-konyong menjadilah ledakan mesiu yang meledak, yang kilatan ledakannya menyinari seluruh dunia”, – begitulah kira-kira perkataan pujangga Eropah Timur Thomas Carlyle tatkala ia membicarakan Muhammad.

Ya, pasir yang mati menjadi mesiu yang hidup, mesiu yang dapat meledak. Tetapi mesiu ini bukanlah mesiu untuk membinasakan dan menghancurkan sahaja, tidak untuk meleburkan sahaja perlawanannya orang yang kendati diperingatkan berulang-ulang, sengaja masih mendur­haka kepada Allah dan mau membinasakan agama Allah. Mesiu ini ju­galah mesiu yang boleh dipakai untuk mengadakan, mesiu yang boleh dipakai untuk scheppend-werk, sebagai dinamit di zaman sekarang bukan sahaja boleh dipakai untuk musuh, tetapi juga untuk membuat jalan biasa, jalan kereta-api, jalan irigasi,- jalannya keselamatan dan ke­makmuran. Mesiu ini bukanlah sahaja mesiu perang tetapi juga mesiu kesejahteraan.

Di Madinah itulah Muhammad mulai menyusun Ia punya masyarakat dengan tuntunan Ilahi yang selalu menuntun kepadanya. Di Madinah itulah turunnya kebanyakannya “ayat-ayat masyarakat” yang mengisi sepertiga lagi dari kitab Qur’an. Di Madinah itu banyak sekali dari Ia punya sunah bersifat “sunah-kemasyarakatan”, yang mengasih petun­juk ditentang urusan menyusun dan membangkitkan masyarakat.

Di Madinah itu Muhammad menyusun satu kekuasaan “negara”, yang mem­buat orang jahat menjadi takut menyerang kepadaNya, dan membuat orang balk menjadi gemar bersatu kepadaNya. Ayat-ayat tentang zakat, sebagai semacam payak untuk membelanjai negara, ayat-ayat merobah qiblah dari Baitulmuqaddis ke Mekkah, ayat-ayat tentang hukum-hukum­nya perang, ayat-ayat tentang pendirian manusia terhadap kepada manusia yang lain, ayat-ayat yang demikian itulah umumnya sifat ayat-ayat Madinah itu.

Di Mekkah turunlah terutama sekali ayat-ayat iman, di Madinah ayat-ayat mengamalkan itu iman. Di Mekkah diatur perhubungan manusia dengan Allah, di Madinah perhubungan manusia dengan manusia sesama­nya. Di Mekkah dijanjikan kemenangan orang yang beriman, di Madina dibuktikan kemenangan orang yang beriman.

Tetapi tidak periode dua ini terpisah sama sekali sifatnya satu dengan lain, tidak dua periode ini sama sekali tiada “penyerupaan” satu kepada yang lain. Di Mekkah adalah turun pula ayat-ayat iman. Tetapi bolehlah kita sebagai garis-umum mengatakan: Mekkah adalah persediaan masyarakat, Madinah adalah pelaksanaan masyarakat itu.

Itu semua terjadi di dalam kabutnya zaman yang purbakala. Hampir empatbelas kali seratus tahun memisahkan zaman itu dengan zaman kita sekarang ini. Ayat-ayat yang diwahyukan oleh Allah kepada Muhammad di Madinah itu sudahlah dihimpunkan oleh Sayidina Usman bersama­-sama ayat-ayat yang lain menjadi kitab yang tidak lapuk di hujan, tidak lekang di panas, sehingga sampai sekarang masihlah kita kenali dia persis sebagai keadaannya yang asli. Syari’at yang termaktub di dalam ayat-ayat serta sunah-sunah Nabi itu, syari’at itu diterimakanlah oleh angkatan­-angkatan dahulu kepada angkatan-angkatan sekarang, turun-temurun, bapak kepada anak, anak kepada anaknya lagi. Syari’at ini menjadilah satu kumpulan hukum, yang tidak sahaja mengatur masyarakat padang­ pasir di kota Yatsrib empatbelas abad yang lalu, tetapi menjadilah satu kumpulan hukum yang musti mengatur kita punya masyarakat di zaman sekarang.

Maka konflik datanglah! Konflik antara masyarakat itu sendiri dengan pengertian manusia tentang syari’at itu. Konflik antara masya­rakat yang selalu berganti corak, dengan pengertian manusia yang beku. Semakin masyarakat itu berubah, semakin besarlah konfliknya itu.

Belum pernah masyarakat begitu cepat robahnya sebagai di akhir abad yang kesembilanbelas di permulaan abad yang keduapuluh ini. Sejak orang mendapatkan mesin-uap di abad yang lalu, maka roman-muka dunia berubahlah dengan kecepatan kilat dari hari ke hari. Mesin-uap diikuti oleh mesin-minyak, oleh electriciteit, oleh kapal-udara, oleh radio, oleh kapal­kapal-selam, oleh tilpun dan telegraf, oleh televisi, oleh mobil dan mesin-tulis, oleh gas racun dan sinar yang dapat membakar. Di dalam limapuluh tahun sahaja roman-muka dunia, lebih berubah daripada di­ dalam limaratus tahun yang terdahulu. Di dalam limapuluh tahun inipun sejarah-dunia seakan-akan melompati jarak yang biasanya dilalui sejarah itu di dalam limaratus tahun. Masyarakat seakan-akan bersayap kilat.

Tetapi pengertian tentang syari’at seakan-akan tidak bersayap, seakan-akan tidak berkaki, – seakan-akan tinggal beku, kalau umpamanya tidak selalu dihantam bangun oleh kekuatan-kekuatan-muda yang selalu mengentrok-entrokkan dia, mengajak dia kepada “rethinking of Islam” di waktu yang akhir-akhir ini. Belum pernah dia ada konflik yang begitu besar antara masyarakat dan pengertian syari’at, seperti di zaman yang akhir-akhir ini.

Belum pernah Islam menghadapi krisis begitu haibat, sebagai di zaman yang akhir-akhir ini. “Islam pada saat ini,” - begitulah Prof. Tor Andrea menulis di dalam sebuah majalah -, “Islam pada saat ini adalah sedang menjalani “ujian-apinya” sejarah. Kalau ia menang, ia akan menjadi teladan bagi seluruh dunia; kalau ia alah, ia akan me­rosot ke tingkatan yang kedua buat selama-lamanya”.

Ya, dulu “zaman Madinah”, – kini zaman 1940. Di dalam ciptaan kita nampaklah Nabi duduk dengan sahabat-sahabatnya di dalam rumah­nya. Hawa sedang panas terik, tidak ada kipas listrik yang dapat menyegarkan udara, tidak ada es yang dapat menyejukkan kerongkongan, Nabi tidak duduk di tempat penerimaan tamu yang biasa, tetapi bersan­darlah Ia kepada sebatang pohon kurma tidak jauh dari rumahnya itu.

Wajah mukanya yang berseri-seri itu nampak makin sedaplah karena rambutnya yang berombak-ombak dan panjang, tersisir rapih ke belakang, sampai setinggi pundaknya. Sorot matanya yang indah itu seakan-akan “mimpi”, – seperti memandang kesatu tempat yang jauh sekali dari alam yang fana ini, melayang-layang di satu alam-gaib yang hanya dikenali Tuhan.

Maka datanglah orang-orang tamunya, orang-orang Madinah atau luar ­Madinah, yang sudah masuk Islam atau yang mau masuk Islam. Mereka semuanya sederhana, semuanya membawa sifatnya zaman yang kuno itu. Rambutnya panjang-panjang, ada yang sudah sopan, ada yang belum sopan. Ada yang membawa panah, ada yang mendukung anak, ada yang jalan kaki, ada yang naik onta, ada yang setengah telanjang. Mereka datanglah minta keterangan dari hal pelbagai masalah agama, atau minta petunjuk ditentang pelbagai masalah dunia sehari-hari. Ada yang mena­nyakan urusan ontanya,
ada yang menanyakan urusan pemburuan, ada yang mengadukan hal pencurian kambing, ada yang minta obat, ada yang minta didamaikan perselisihannya dengan isteri di rumah.

Tetapi tidak seorang­pun menanyakan boleh tidaknya menonton bioskop, boleh tidaknya mendirikan bank, boleh tidaknya nikah dengan perantaraan radio, tidak seorang­pun membicarakan hal mobil atau bensin atau obligasi bank atau telegraf atau kapal-udara atau gadis menjadi dokter …

Nabi mendengarkan segala pertanyaan dan pengaduan itu dengan tenang dan sabar, dan mengasihlah kepada masing-masing penanya jawabnya dengan kata-kata yang menuju terus ke dalam rokh-semangatnya semua yang hadir.  Di sinilah syari’atul Islam tentang masyarakat lahir kedunia, di sinilah buaian wet kemasyarakatan Islam yang nanti akan dibawa oleh zaman turun-temurun, melintasi batasnya waktu dan batasnya negeri dan samudra.

Di sinilah Muhammad bertindak sebagai pembuat wet, bertindak sebagai wetgever, dengan pimpinannya Tuhan, yang kadang-kadang langsung mengasih pimpinannya itu dengan ilham dan wahyu. Wet ini harus cocok dan mengasih kepuasan kepada masyarakat di waktu itu, dan cukup “karat”, – cukup elastis, cukup supel, – agar dapat tetap dipakai sebagai wet buat zaman-zaman di kelak kemudian hari. Sebab Nabi, di dalam maha-kebijaksanaannya itu insyaflah, bahwa Ia sebenarnya tidak mengasih jawaban kepada si Umar atau si Zainab yang duduk di hadapannya di bawah pohon kurma pada saat itu sahaja, – Ia insyaf, bahwa Ia sebenarnya mengasih jawaban kepada Seluruh Peri- kemanusiaan.

Dan seluruh peri kemanusiaan, bukan sahaja dari zamannya Nabi sendiri, tetapi juga seluruh peri kemanusiaan dari abad-abad yang ke­mudian, abad kesepuluh, abad keduapuluh, ketigapuluh, keempatpuluh, kelimapuluh dan abad-abad yang masih kemudian-kemudian : Lagi yang masyarakatnya sifatnya lain, susunannya lain, kebutuhannya lain, hukum perkembangannya lain.

Maka di dalam maha-kebijaksanaan Nabi itu, pada saat Ia mengasih jawaban kepada si Umar dan si Zainab di bawah pohon kurma hampir seribu empat ratus tahun yang lalu itu, Ia adalah juga mengasih jawaban kepada kita. Kita, yang hidup ditahun 1940! Kita, yang hajat kepada radio dan listrik, kepada sistim politik yang modern dan hukum-hukum ekonomi yang modern, kepada kapal-udara dan telegraf, kepada bioskop dan universitas! Kita, yang alat-alat penyenangkan hidup kita berlipat­-lipat ganda melebihi jumlah dan kwaliteitnya alat-alat hidup si Umar dan si Zainab dari bawah pohon kurma tahadi itu, yang masalah-masalah hidup kita berlipat-lipat ganda lebih sulit, lebih berbelit-belit, daripada si Umar dan si Zainab itu. Kita yang segala-galanya lain dari si Umar dan si Zainab itu.

Ya, juga kepada kita! Maka oleh karena itulah segala ucapan-ucapan Muhammad tentang hukum-hukum masyarakat itu bersifat syarat-syarat minimum, yakni tuntutan-tuntutan “paling sedikitnya”, dan bukan tuntutan-tuntutan yang “musti presis begitu”, bukan tuntutan­tuntutan yang mutlak. Maka oleh karena itulah Muhammad bersabda pula, bahwa ditentang urusan dunia “kamulah lebih mengetahui”. 

Halide Edib Hanum 
kira-kira limabelas tahun yang lalu pernah menulis satu artikel di dalam surat-surat-bulanan “Asia”. Yang antaranya ada berisi kalimat: “Di dalam urusan ibadat, maka Muhammad adalah amat keras sekali. Tetapi di dalam urusan yang lain, di dalam Ia punya sistim masya­rakat, Ia, sebagai seorang wetgever yang jauh penglihatan, adalah menga­sih hukum-hukum yang sebenarnya “liberal”. Yang membuat hukum-­hukum masyarakat itu menjadi sempit dan menyekek nafas ialah con­sensus ijma’ ulama.”

Renungkanlah perkataan Halide Edib Hanum ini. Hakekatnya tidak berbedaan dengan perkataan Sajid Amir All tentang “kekaretan” wet-wet Islam itu, tidak berbedaan dengan pendapatnya ahli-tarikh-ahli-tarikh yang kesohor pula, bahwa yang membuat agama menjadi satu kekuasaan reaksioner yang menghambat kemajuan masyarakat manusia itu, bukan­lah pembikin agama itu, bukanlah yang mendirikan agama itu, tetapi ialah ijma’nya ulama-ulama yang terkurung di dalam tradisi-pikiran ijma’-ijma’ yang sediakala.

Maka jikalau kita, di dalam abad keduapuluh ini, tidak bisa mengunyah dengan kita punya akal apa yang dikatakan kita punya oleh Nabi kepada si Umar dan si Zainab di bawah pohon kurma hampir seribu empat ratus tahun,- jikalau kita tidak bisa mencernakan dengan akal apa yang disabdakan kepada si Umar dan si Zainab itu di atas basisnya perbandingan-perbandingan abad keduapuluh dan kebutuhan-kebutuhan  abad keduapuluh, – maka janganlah kita ada harapan menguasai dunia, seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala sendiri di dalam surat-surat ayat 29. Janganlah kita ada pengiraan, bahwa kita me­warisi pusaka Muhammad, sebab yang sebenarnya kita warisi hanyalah pusaka ulama-ulama faqih yang sediakala sahaja.

Di dalam penutup saya punya artikel tentang “Memudakan Pengertian Islam”saya sudah peringatkan pembaca, bahwa segala hal itu boleh asal tidak nyata dilarang.

Ambillah kesempatan tentang bolehnya segala hal ini yang tak ter­larang itu, agar supaya kita bisa secepat-cepatnja mengejar zaman yang telah jauh meninggalkan kita itu. Dari tempat-tempat-interniran saya yang terdahulu, dulu pernah saya serukan via tuan A. Hassan dari Per­satuan Islam, di dalam risalah kecil “Surat-surat Islam dari Endeh”:

“Kita tidak ingat, bahwa masyarakat itu adalah barang yang tidak diam, tidak tetap, tidak “mati”, – tetapi hidup mengalir, berubah senantiasa, maju, dinamis, ber-evolusi. Kita tidak ingat, bahwa Nabi s.a.w. sendiri telah menjadikan urusan dunia, menyerahkan kepada kita sendiri perihal urusan dunia, membenarkan segala urusan dunia yang baik dan tidak nyata haram atau makruh. Kita royal sekali dengan perkataan “kafir”, kita gemar sekali mencap segala barang yang baru dengan cap “kafir”. Pengetahuan Barat – kafir; radio dan kedokteran – kafir; sendok dan garpu dan kursi – kafir; tulisan Latin – kafir; yang bergaulan dengan bangsa yang bukan bangsa Islam-pun – kafir!

Padahal apa,- apa yang kita namakan Islam? Bukan Rokh Islam yang berkobar-kobar, bukan Amal Islam yang mengagumkan, tetapi … dupa dan karma dan jubah dan celak mata! Siapa yang mukanya angker, siapa yang tangan­nya bau kemenyan, siapa yang matanya dicelak dan jubalmya panjang dan menggenggam tasbih yang selalu berputar, – dia, dialah yang kita namakan Islam.

Astagafirullah, inikah Islam? Inikah agama Allah? Ini? Yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan, mengkafirkan radio dan listrik, mengkafirkan kemoderenan dan ke-uptodate-an? Yang mau tinggal mesum sahaja, tinggal kuno sahaja, tinggal terbelakang sahaja, tinggal “naik onta” dan “makan zonder sendok” sahaja, seperti di zaman Nabi-nabi.

Islam is progress, - Islam itu kemajuan, begitulah telah saya tuliskan di dalam salah satu surat saya yang terdahulu. Kemajuan karena fardhu, kemajuan karena sunah, tetapi juga kemajuan karena diluaskan dan dilapangkan oleh jaiz atau mubah yang lebarnya melampaui batasnya­ zaman. Progress berarti barang baru, yang lebih tinggi tingkatnya daripada barang yang terdahulu. Progress berarti pembikinan baru, ciptaan baru, creation baru,- bukan mengulangi barang yang dulu, bukan mengcopy barang yang lama.

Di dalam politik Islam-pun orang tidak boleh mengcopy sahaja barang-barang yang lama, tidak boleh mau mengulangi sahaja segala sistim-sistimnya zaman “khalifah-khalifah yang ‘besar”. Kenapa orang-orang Islam di sini selamanya menganjurkan political system “seperti di zamannya khalifah-khalifah besar” itu?

Tidakkah di dalam langkahnya zaman yang lebih dari seribu tahun itu peri-kemanusiaan mendapatkan sistim-sistim baru yang lebih sempurna, lebih bijaksana, lebih tinggi tingkatnya daripada dulu? Tidakkah zaman sendiri menjel­makan sistim-sistim baru yang cocok dengan keperluannya, – cocok dengan keperluan zaman itu sendiri? Apinya zaman “khalifah-khalifah yang besar” itu?

Akh, lupakah kita, bahwa api ini bukan mereka yang menemukan, bukan mereka yang “menganggitkan”? Bahwa mereka “menyutat” sahaja api itu dari barang yang juga kita di zaman sekarang mempunyainya, yakni dari Kalam Allah dan Sunahnya Rasul?

Tetapi apa yang kita “cutat” dari Kalam Allah dan Sunah Rasul itu? Bukan apinya, bukan nyalanya, bukan! Abunya, debunya, akh ya, asapnya! Abunya yang berupa celak mata dan sorban, abunya yang menyintai ke­menyan dan tunggangan onta, abunya yang bersifat Islam-muluk dan Islam ibadat-zonder-taqwa, abunya yang cuma tahu baca Fatihah dan tahlil sahaja,- tetapi bukan apinya, yang menyala-nyala dari ujung zaman yang satu keujung zaman yang lain.”

Begitulah saya punya seruan dari Endeh. Marilah kita camkan di­ dalam kita punya akal dan perasaan, bahwa kini bukan masyarakat onta, tetapi masyarakat kapal-udara. Hanya dengan begitulah kita dapat me­nangkap inti arti yang sebenarnya dari warta Nabi yang mauludnya kita rayakan ini hari. Hanya dengan begitulah kita dapat menghormati Dia di dalam artinya penghormatan yang hormat sehormat-hormatnya. Hanya dengan begitulah kita dengan sebenar-benarnya boleh menamakan diri kita umat Muhammad, dan bukan umat kaum faqih atau umat kaum ulama.

Pada suatu hari saya punya anjing menjilat air di dalam panci di­ dekat sumur. Saya punya anak Ratna Juami berteriak: “Papie, papie, si Ketuk menjilat air di dalam panci!” Saya menjawab: “Buanglah air itu, dan cucilah panci itu beberapa kali bersih-bersih dengan sabun dan kreolin.”

Ratna termenung sebentar. Kemudian ia menanya: “Tidakkah Nabi bersabda, bahwa panci ini musti dicuci tujuh kali, diantaranya satu kali dengan tanah?”

Saya menjawab: “Ratna, di zaman Nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang memakai sabun dan kreolin.” Muka Ratna menjadi terang kembali. Itu malam ia tidur dengan roman muka yang seperti bersenyum, seperti mukanya orang yang mendapat kebahagiaan besar.

Maha-Besarlah Allah Ta’ala, maha-mulialah Nabi yang Ia suruh!

“Panji Islam”, 1940



Source: Sumber 
IMO:
wet  =  hukum


Rabu, 10 Juli 2013

mungkin inilah mengapa mushalla kami ditinggalkan

             Ramadhan datang, mendadak banyak menyambang masjid, surau, dan mushalla. Tarawih meramaikan masjid, mushalla, dan surau di kampung-kampung. Layaknya mushalla lainnya, di tempat kami bersesak orang di tarawih pertama. Tikar digelar di halaman mushalla. Tetangga-tetangga berebut tempat di dalam mushalla. Entah siapa itu namanya, mbak ina, bu Rida, pak Parman, 11 bulan sebelumnya belum pernah kelihatan di mushalla kami, maklumlah kalau Takmir Mushalla kurang begitu mengenalnya. Riuh anak-anak berlarian menyambut tarawih. Sajadah digelar, kipas dan air minum disiapkan. Bingung juga ini ada arisan apa shalat tarawih. Beberapa celingukan nyari imam mushalla yang tak kunjung datang. Kami tetap bersyukur meski ini berlangsung di awal dan akhir bulan Ramadhan. 
             Bagi kami jamaah rutin mushalla ini, kami paham betul imam kami. Beliau rumahnya agak jauh dari mushalla, tapi bahkan makmum cuma seorang pun beliau istiqomah datang. Bagi yang belum terbiasa terlihat gelisah, celingukan, dan ada yang minta diganti saja imamnya. Kami hanya tersenyum menyabarkan mereka. Muadzin dadakan bahkan berinisiatif mengumandangkan iqomah, beruntung urung dilakukan. Bapak-bapak banyak juga mengobrol di teras mushalla, memindahkan kebiasaan mereka yang biasanya dilakukan di warung.
             Bagi kami, beliau imam shalat sekaligus imam tauladan. Keistiqomahan, kerendahan hati, dan ilmu yang beliau ajarkan di setiap kajiannya membuat kami sabar menunggu kedatangannya. Di sekitar tempat beliau tinggal terdapat masjid namun beliau secara khusus diminta mengimami sekaligus mengisi kajian di mushalla kami. Tak seorangpun di sekitar tempat tinggalnya sholat di mushalla kami kecuali istri beliau. Pernah suatu ketika mengisi kajian selepas maghrib, hanya sebiji orang menunggu di mushalla kami. Tidak ada yang berubah dalam penyampaian beliau, detail, lugas, berdasar dari berbagai sudut pandang, dan contoh-contoh nyata dalam kehidupan. Selepasnya beliau beliau mendekat ke satu-satunya yang hadir, meminta apa yang disampaikannya disampaikan pula pada kawan-kawan lainnya.
             Setelah sesaat kemudian banyak yang melongok kearah timur, peci hitam dan sajadah merah di pundak mulai samar kelihatan. Jamaah tetap riuh mengacuhkan, beberapa semakin semangat bershalawat lewat TOA Mushalla. Sebenarnya, shalawatan lewat TOA Mushalla jarang dilakukan pada hari-hari biasa di sebelas bulan lainnya, namun karena Ramadhan terasa spesial hal ini jadi ramai dilakukan.
Sesampainya imam mushalla di mushalla kami, beberapa berinisiatif langsung mengumandangkan iqamah namun dicegah. Kami paham betul kebiasaannya. Sebagaimana biasanya, beliau menggelar sajadah di tempat kosong disekitar makmum untu shalat rawaatib terlebih dahulu. Menjelang salam, muadzin mengumandangkan iqamah disaat mushalla dan masjid lainnya sudah salam. Mushalla berjejal jamaah, kami senang betul melihatnya. Sejenak, kami berdoa dalam hati ini berlangsung di setiap shalat fardhu di sebelas bulan lainnya.
             Selepas isya', tarawih dimulai. Di mushalla ini, beliau memimpin shalat 23 rakaat termasuk witir, berbeda dengan masjid terdekat yang melaksanakan 11 rakaat termasuk shalat witir. Imam mushalla ini tidak sebegitu cepat memimpin shalat sebagaimana di beberapa mushalla lain namun surah-surah yang dibaca diambil surah-surah pendek dalam juz 30 Al-Qur'an. Kata beliau suatu ketika, sebagai imam kita harus paham siapa yang kita imami, jangan menonjolkan kemampuan hafalan.
             Selepas rakaat ke-8, beberapa jamaah mulai menggulung sajadah. Beberapa menggelar kembali di teras mushalla untuk shalat witir, beberapa duduk-duduk di teras menunggu witir yang dipimpin imam, sedangkan anak-anak kecil dan beberapa jamaah sudah bubar duluan keluar mushalla. Jamaah di dalam mushalla nyaris tinggal sepertiganya, kebanyakan jamaah yang sudah sepuh.
Ketika shalat witir dimulai, tampak dua pertiga shaf terisi lagi. Sedangkan mushalla dan masjid lainnya sudah selesai dan mulai terdengar tadarus Al-Qur'an melalui pengeras suara. Selepas shalat ada kue yang sedianya untuk para jamaah yang mengikuti kajian namun habis duluan bersamaan bubarnya jamaah tarawih. Kajian pun dimulai, diikuti sebagian kecil jamaah, senangnya usia mereka beragam, tidak hanya didominasi bapak-bapak dan ibu-ibu paruh baya.
             Sudah agak malam memang saat itu. Itulah mungkin kenapa banyak yang bergumam untuk berpindah shalat tarawih di mushalla lainnya. Lebih cepat, kata mereka. Bahkan rakaatnya pun lebih sedikit. Kami hanya mengelus dada.
             Saya yang masih anak-anak saat itu lebih senang karena ada kue dan wedang jahe di mushalla. Itulah mushalla kami 10 tahun lalu. Imam mushalla itu tak lagi memimpin tarawih dan shalat fardhu lainnya. Sang Khalik memanggilnya sebelum usianya menginjak usia Rasulullah SAW ketika wafat. Mungkin begitulah cara Allah menunjukan sayangNya pada hambanya. Namun, jauh sebelum beliau menghadap Sang Kuasa, mushalla kami tak lagi ramai di bulan ramadhan, apalagi di sebelas bulan berikutnya. Kami bersyukur benar apabila bagian dalam mushalla bisa penuh. Shalat witir hanya diikuti paling tidak dua shaf, itupun mushalla sudah dibagi dua dengan hijab untuk jamaah muslimah. Wafatnya imam mushalla disusul istri beliau. Semakin sepi pula jamaah muslimah, karena beliaulah yang mengajak jamaah muslimah meramaikan mushalla. Begitulah mushalla kami, sekarang hanya terisi 3-4 shaf di bulan Ramadhan dan hijab di tengah mushalla kecil kami. Kami hanya bisa berdoa semoga mushalla kami ramai lagi di 12 bulan di setiap tahunnya dan semoga mushalla-mushalla lainnya tidak menjadi sesepi mushalla ini.




1 Ramadhan 1434 H
Surabaya, 00:48 WIB 

Jumat, 01 Maret 2013

Malam Sehitam Dasar Gelas Kopi

"gimana jo?" ujarnya sembari memalingkan mukanya ke jalanan.

"Gimana apane rur?" sedikit mengernyitkan alis, mengambil tempat di sebelah orang yang memanggilnya 'jo'.

Bukannya menanggapi kawannya tadi, Pahrur ini cuma tersenyum lihat jalanan sibuk. Jarum kecil jam tangannya saja sudah enggan nunjukin angka sebelas.

"Leganya, sudah jam sebelas saja rur. Selonjorin kaki dulu, sana agak kesana dikit napa"
Dirogohnya saku belakang jins kumal, dan mendapati sebatang gulungan tembakau berlabel 'inovativ' pakai huruf 'v' dibelakangnya.

"Jadi orang kui rur, kayak rokok ini. Inovativ. Sama kayak mobil yang lewat-lewat itu rur."
Jengkel karena yang diajak ngomong dari tadi malah melototin jalanan yang sumpek itu, dia menyulut gulungan tembakau itu. Diolesinya dengan lethek kopi.

"Bahkan menulisnya pun salah, Jo. Itu huruf terakhirnya pakai 'f'' bukan 'v'. Kita orang Indonesia, Jo. Beda juga sama mobil yang lewat itu. Cuma sekedar merk." yang diajak ngobrol akhirnya menimpali.

"Karepmu rur. Maksudnya yang buat rokok kan kayak gitu juga. Dari SD dia sudah nggulung kali, ndak pernah dia tahu apa itu SMP itu. Ya kayak aku gini to rur." dia tersenyum, senyum kecut.
Pahrur ikut-ikutan tersenyum.

"Kalau saja orang-orang penting negara ini berpikiran begitu. Maksudnya buat yang terbaik tanpa berpikir apa prosedurnya, gimana caranya, yang penting hasilnya. Andai saja ya jo."

"ya gak bisa gitu rur, kacau nanti negara ini. Lha wong, semua jadi seenaknya sendiri tanpa aturan." ujarnya sambil perlahan mengisap asap gulungan tembakaunya agak menjauh dari kawannya. Dia tahu betul sebenarnya kalau kawannya tidak suka dengan yang namanya rokok, bukan karena asapnya, karena suatu alasan sentimentil. Setiap ditanya, "hanya masalah prinsip jo. Kalau kita nggak punya, apa jadinya kita. Hanya bangkai berbau busuk tiap kita ngomong.". Dia mafhum akan hal itu.


"Lihatlah itu jo, semua yang berlalu lalang berpikir seolah urusan merekalah yang paling penting. Melebihi urusan negara ini. Lihatlah, saling sikut tak peduli yang disikutnya ibu yang sedang menggendong anaknya yang kritis mau dibawa ke UGD. Semua merasa penting."


Rejo berhenti mengisap rokoknya sejenak, menajamkan penglihatannya ke arah jalanan.
"Ah itu kan sama saja kamu, kalau pagi-pagi sudah mau jam setengah lapan. Takut gajimu dipotong. Aku aja sudah ngobrol sama Pak Haji di serambi Musholla pas kamu masih ngiler di bantalmu. Baik rur Pak Haji itu di tempat kayak gini."


"Ibu itu gak pernah berpikir bakalan ditolak bayinya, yang dia tahu hanya bagaimana senyum anaknya di setiap pagi tetap terkembang. Ah, negara ini ya jo."


"Mau bagaimana lagi rur. Dulu emakku gak pernah pusing soal tetek bengek Jamkes atau kartu sehat atau apalah itu. Aku dulu setep ya dibawa ke Lek Parjan."


"Simpel ya jo Mak Rukmi itu."

"Ya mana bisa rur, emakku suruh ngisi kertas-kertas itu. Coba tanyain uleg uleg, harga cabe sekilo, atau dimana dapat daun kenikir paling top, dia jagonya."


"Haha, paling top dah itu pecelnya. Tapi kalo lihat politisi-politisi itu ngomong di radio kesayangannya, dia pasti sudah maki-maki. Aku saja yang lagi enak-enak sarapan, ikutan disembur"


"Begitulah emakku rur. Paling top. Kayak paling tahu urusan negara ini saja. Padahal dia cuma alergi sama omong kosong, rur. Hahaha.."


Kedua kawan itu sekonyong-konyong tertawa bersamaan. Mengalahkan riuhnya jalanan. Mak Darti, yang punya warung, hanya geleng-geleng lihat keduanya. Seorang adalah kuli bangunan di proyek sebelah warungnya, meski ngutang kalau makan tapi pasti lunas setiap gajian. Anehnya, dia lebih suka ngutang daripada ditraktir kawan di sebelahnya. Bukan gengsi, biar ada semangatnya kalau kerja. Satunya lebih aneh lagi, ngakunya PNS tapi gak pernah pake seragam abu-abu atau batik korpri yang biasa dia lihat kalau ada PNS yang ketahuan mangkir di televisi. Keduanya seolah orang paling pinter di negara ini, pikir Mak Darti.


"Jo, senang pasti rasanya kerjaanmu seharian sudah kelar. Tinggal selonjoran di warung Mak Darti. Ya kayak gitu jo, pas dulu waktu aku selesai sekolah terus bantu angkat-angkat barang di Toko Haji Marno. Sorenya, sambil nunggu magrib sudah dibuatin masakan ibu, tinggal selonjoran sama kamu di sebelah rumah."


"Rur..rur..sawang sinawang. Kamu itu lho kurang apa. Gaji sudah lumayan. Dapat pensiun. Kawin wae sana."


"Begitulah jo. Kadang bukan seperti itu yang dicari. Nggak nyaman jo, dituntut sana sini, bosnya begini, aturannya begitu. Orang ini dilayani begini lainnya begitu. Apa aku bakar saja kantorku itu ya jo?"

"Haha..gendeng kamu rur."

 Keduanya tertawa lagi. Malam itu anak-anak brilian beda nasib saling menyeduh kopinya. Seolah apa yang mereka bicarakan tak kalah seru dengan sekumpulan orang berpakaian parlente di gedung bundar itu. Bedanya, mereka nggak sampai jotos-jotosan kalo berdebat.