Copyrights @ Journal 2014 - Designed By Templateism - SEO Plugin by MyBloggerLab

Tampilkan postingan dengan label nol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nol. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 November 2012

Hujan

Segelas teh hangat gula obat gula
Singkong meduk hangat, demikian kau menyebutnya
Tawa dan senyum riang
Gerimis lebat di sekitar kita
Tawa kita tak lebih hebat dari guntur dan lebat hujan diluar

Sepetak tanah dibawah genteng berantakan
Ember penuh air mudah ditemukan kala hujan itu
Diatas meja
Tempat menumis sayur
Diatas kasur
Kau tahu, bahkan dibawah kolong tempat tidur
Bukan, bukan tadah air
Karena disitulah biasa disimpan

Singkong hangat menemani badai
Badai?
Oh iya, senyummu sejenak menghapus badai diluar
Tapi didalam petak tanah itu
Bahkan tikus celurut pun merasa tidak aman
Kau menyebutnya "Rumah"
Tempat kita seharusnya pulang.

Ah lama tak pulang aku kalau begitu
Tapi masihkah itu tempat pulang?
Kaupun tak akan menjawab kutanya begitu
Benar kan?

Sabtu, 25 Agustus 2012

Sekedar merenung

"Setiap orang pasti akan berada di titik paling lemah, seberapa pun hebatnya, saat ujian terhebat datang dari Tuhannya"
Itulah yang saya percayai. Meski based on yg terjadi pada orang yang saya kenal, hingga saya benar-benar tahu rasanya. Well, hanya bisa tersenyum menengadahkan wajah ke langit dan berdoa agar tidak salah mengambil langkah.
Mungkin tidak pernah terlintas ketika ada temen yang ditinggalkan kedua orangtuanya, kehilangan segalanya saat bencana, kecelakaan yang merenggut nyawa, atau cacat seumur hidup, semua itu terjadi pada kita. Siapkah saya? Kita tidak tahu sampai benar-benar merasakannya. Setidaknya setiap orang akan mengalami semua itu namun sesuai porsinya. Bukankah Tuhan yang menciptakan kita? Dan Dia pula yang memberi cobaan? Tentunya, Sang Maha Pencipta tahu benar kapsitas yang diciptakanNya. Hanya itu yang bisa saya percayai, karena ketika semua hilang, hanya harapan satu-satunya modal. Kepercayaan, kadang tidak mudah diberikan, namun itu kadang menjadi alasan kuat untuk tetap berdiri di badai.
Ah rupanya mulai melantur bak profesor sosiologi berceramah pada mahasiswanya atau bahkan bak motivator dihadapan orang-orang yang entah saking bodohnya butuh orang lain untuk mengenal dirinya. Saya bukanlah profesor ilmu sosial atau motivator, hanya sekedar belajar dari kehidupan 23 tahun 4 bulan yang pernah saya jalani. Mungkin boleh dikata saya ini mahasiswa abadi karena menurut saya 23 tahun 4 bulan hanyalah waktu yang singkat untuk belajar. Mungkin sudah semester 47. nah kalo yang semester 9 saja nyerah muak belajar, saya ini, kalo orang Magelang bilang, pekok benar. Begitulah, bahkan kadang masih nanya ke Tuhan : "apa yang harus saya lakukan?".
Sekali lagi, ini semua hanya renungan dari mahasiswa yang tak kunjung lulus kuliah kehidupan.


Senin, 10 Oktober 2011

Cerita tentang kentang busuk

Di suatu sekolah, seorang guru memberi tugas kepada para siswanya.

"mulai besok kalian harus membawa kentang satu kantong untuk masing-masing anak. Kentang-kentang tersebut sudah harus dikupas kulitnya. Sekantong kentang itu nantinya akan kalian bawa kemanapun kalian pergi nantinya selama tiga minggu" ujar guru tersebut

"Tapi untuk apa, bu?" salah seorang siswanya memprotes

"Kalian akan mengerti nantinya." jawab guru itu

keesokan harinya, anak-anak sibuk dengan sekantong kentang milik mereka masing-masing. Kemanapun mereka membawanya, baik ketika bersekolah, bermain, bahkan ke kamar mandi. Awalnya, mereka nyaman dengan itu semua namun mereka mulai tidak tahan dengan bau busuk yang ditimbulkan dan beban berat sekantong kentang. Karena tidak tahan dengan bau tersebut, mereka mulai memprotes guru mereka ketika masuk ke kelas.

Guru tersebut tersenyum ketika diprotes, dan perlahan menjelaskan.

"nah, sebagaimana kita tahu, kentang tersebut mengandung karbohidrat atau bentuk lain dari glukosa yang terasa manis, benar kan? Namun, ketika kalian membawanya selama tiga minggu ini, apakah rasa manis yang kalian dapatkan? Tidak, melainkan bau busuk dan berat kentang itu."

"kentang-kentang tersebut ibarat rasa buruk kita terhadap orang lain, benci, dendam, iri, dan sebagainya. pada awalnya terasa manis -menurut kita- namun jika kita bawa kemana-mana rasa buruk tersebut, kita hanya membawa beban berat dan bau busuk. Bahkan kita tidak bisa meletakkan sejenak untuk menghindari baunya kecuali kita melupakannya.Beban berat dan bau busuk hanya akan membuat kita tidak nyaman. Mengapa tidak kita buang saja rasa buruk terhadap orang lain?
memaafkan mereka dan kembali tersenyum atas esok hari."

-dikutip dari cerita seorang yang lebih bijak dari penulis-

Sabtu, 08 Oktober 2011

Senjaku

sepenggal cerita

sekedar ilustrasi senja
Senja
cahaya terbenam. itulah salah satu momen yang paling kutunggu saat itu. Diatas "trucuk" di pinggiran sungai, menatap gagahnya matahari dengan sinarnya yang meredup. namun, usaha hari itu cukup sudah. menandakan hari berganti, kembali pada keluarga, menghadap pada Sang Penciptanya, dan melepas lelah sejenak.
Warnah merah kekuningan perlahan turun menuju balik pohon terjauh pandangan mata. Tenggelam namun sinarnya masih menyala terang. itulah senja.
Senja ini yang menemaniku melepas lelah sejenak, seharian bergumul dengan buku dengan kecut hati menghadapi ketidakadilan. Melepas lelah mengerjakan tugas rumah tangga sepulang dari kecutnya ilmu yang dibatasi oleh harta. begitulah senjaku, melepas semua lelah meski sinarnya meredup.

dia tenggelam, tak terlihat, namun sinarnya masih dapat dinikmati. Manusia mungkin tidak selamanya ada, namun perbuatannya menerangi meski sudah tenggelam jasadnya. Tapi tetap saja tidak abadi, sinar tersebut akan hilang berganti malam, namun matahari masih bersinar melalui rembulan di malam hari. selalu menyinari. Sang Penguasa alam menetapkan juga, kala semua tenggelam adzan untuk menghadapNya berkumandang. Begitulah, meski sinar senja masih menyala namun matahari tetap saja telah tenggelam, saatnya menghadap kepadaNya melalui magrib.

Manusia yang tenggelam namun sinarnya tetap menyinari tetap harus menghadap Sang Penciptanya atas segala yang telah dilakukannya. siapapun dia. maka ingatlah selalu akan tenggelam maupun bersinar akan selalu ada adzan memanggil untuk menghadapNya.
melepaskan semua keluh kesah dan do'a. Dialah tempat kembali. dan sebaik-baiknya tempat kembali

00.52 WIB
08 Oct 2011
Jakarta